![]() |
Hai
Saya ingin berbagi pengalaman dan pandangan pribadi saya tentang doa, syukur, dan bagaimana pandangan hidup saya telah berubah seiring berjalannya waktu.
Dulu, dalam doa saya, saya selalu menyertakan daftar permintaan seperti A, B, C, dan sebagainya. Namun, beberapa tahun terakhir, saya memutuskan untuk mengubah pendekatan saya. Saya menggantikan daftar permintaan dengan ungkapan syukur dan terima kasih kepada sang Pencipta.
Contohnya, doa saya kini lebih bersifat bersyukur atas segala anugerah yang Tuhan berikan kepada saya. Saya menyampaikan terima kasih atas kesehatan, umur panjang, keselamatan dalam perjalanan, rejeki dalam usaha, dan cukupnya rezeki untuk memenuhi kebutuhan keluarga serta kewajiban-kewajiban lainnya. Saya juga berterima kasih atas anugerah kesehatan, umur panjang, rejeki, dan keselamatan yang Tuhan berikan kepada seluruh keluarga saya.
Dalam perjalanan spiritual ini, saya menghilangkan beban dalam doa yang semula penuh dengan permintaan. Saya menyadari bahwa tidak ada beban dalam doa yang diminta kepada semesta/Tuhan. Jika suatu permintaan tidak terkabul, itu bukanlah beban dalam doa, tetapi mungkin menjadi beban di hati kita.
Saya memandangnya seperti melihat seorang anak kecil yang meminta sesuatu kepada orang tuanya. Orang tua tidak selalu mengabulkan permintaannya karena mungkin si anak belum pantas atau belum siap untuk memiliki hal tersebut. Namun, seiring waktu, si anak tumbuh dewasa dan dengan rajin menjalani kewajibannya, akhirnya orang tua memberikan apa yang diminta karena melihat si anak sudah pantas memiliki itu.
Saya memandang Tuhan sebagai semesta yang bekerja seperti orang tua kepada manusia. Semesta mengabulkan afirmasi manusia yang sungguh-sungguh berusaha dan benar-benar sudah pantas memiliki apa yang diinginkannya.
Afirmasi yang didapat tanpa bekerja, tanpa skill khusus, tanpa relasi, atau tanpa bisnis terdengar konyol. Ini seperti tiba-tiba mendapatkan emas dan uang tanpa usaha apapun. Oleh karena itu, saya meyakini bahwa afirmasi harus masuk akal, sesuai dengan kemampuan diri, agar tidak menghadapi penolakan.
Inilah perjalanan spiritual saya yang mengajarkan saya untuk menyuarakan rasa syukur dalam doa dan memberikan afirmasi yang masuk akal. Semoga pengalaman dan pandangan saya dapat memberikan inspirasi dan pemahaman baru dalam menghadapi perjalanan hidup.
Terima kasih sudah membaca dan mari kita terus menggali makna spiritualitas dalam setiap doa dan langkah kita.
Salam hangat,
Restu Teguh Pangestu



0 comments:
Posting Komentar
Berkomentarlah dengan bijak dan sopan, mari kita budayakan bertutur kata yang baik dan saling menghormati. Mohon maaf bila komentar Anda yang tidak memenuhi kriteria tersebut akan saya hapus. Bila Anda ingin memberikan saran, kritik, masukan yang membangun, dan memberikan tambahan materi bila ada kekurangan pada artikel yang sedang dibahas dengan senang hati saya persilakan, terima kasih.