"nggak pernah makan ya?"
Bermula dari sindiran atau hinaan , biasanya disusul pula dengan dugaan macam-macam. Yang cacingan lah, TBC lah, kurang gizi lah, dan yang paling sering adalah banyak pikiran atau stres. Lho... belum tahu ya kalau gemuk itu juga bisa disebabkan karena stres? Artinya, stres itu tidak hanya bisa menyebabkan kurus, tapi bisa juga menyebabkan gemuk. Malah, bisa juga menyerang orang yang langsing, namun termanifestasikan dalam bentuk yang berbeda.
Terlepas dari semuanya, tentu hanya saya yang tahu pasti penyebab kekurusan ini.
“Kok makin kurus sih? Jelek tahu kurus. Gemukin, dong.”
Bayangkan saja mendengar kalimat seperti ini nyaris tiap hari. Wajar ‘kan jika lelah, kesal, sampai marah?
Sayangnya, body shaming seringkali dianggar wajar. Banyak orang di sekeliling kita menganggap mengomentari tubuh dan penampilan fisik orang lain adalah sesuatu yang biasa, tidak ada masalah dengan itu. Ketika bertemu seseorang, komentar selewat “Lo gemukan ya?” atau “Sekarang kurusan?” dianggap sudah biasa. Yang lain malah mungkin menganggap body shaming adalah bagian dari bercanda. Karena itu cuma bercanda, maka kita tidak boleh marah atau tersinggung. ‘Kan cuma bercanda, kok sensitif sekali. Mereka tidak sadar bahwa tindakannya sudah merendahkan dan menyakiti perasaan orang lain.
Kadang-kadang cemoohan-cemoohan itu membuat saya mempertanyakan apa yang salah dengan tubuh kurus. Bertahun-tahun hidup dengan tubuh kurus, rasanya lelah sekali jika orang-orang hanya bisa berkomentar, “Lo makin kurus, makanya makan yang banyak, dong.”
| etubrother |


gpp kurus yg penting cakep
BalasHapus