![]() |
| Nasihat Bijak dari Seorang Bapak: Filosofi Rizki dan Restu |
Dulu, waktu masih kecil, saya punya kebiasaan yang mungkin cukup umum bagi sebagian orang. Saya sering berantem dengan kakak saya, dan kalau berantem, saya tidak pernah memanggilnya dengan sebutan "Kakak ataupun Aa." Sebaliknya, saya selalu memanggilnya dengan namanya langsung, yaitu Rizki. Seolah-olah kata "kakak" atau "ade" adalah hal yang tidak pernah saya ucapkan. dan sampai detik ini panggilan tersebut sudah melekat di diri saya, ya cukup menjadi pembeda disaat teman-teman kakak saya menyebutnya "HM" , dan saya menyebutnya dengan lantang Rizki !!! .
Almarhum bapak saya, sosok bijak dalam hidup saya, pernah menyampaikan sebuah nasihat yang masih terngiang hingga hari ini, almarhum pernah berkata "Dalam hidup, kita memerlukan rizki, dan dalam cinta, kita memerlukan restu." Bagi saya, kata-kata itu lebih dari sekadar kata-kata bijak. Kata-kata tersebut menggambarkan hubungan saya dengan kakak saya, Arizky Hidayah Maulana, dan juga dengan almarhum bapak yang begitu bijaksana.
Rasanya seperti bapak saya adalah seorang filsuf. Dia tidak hanya memberikan nasihat, tetapi juga menyiratkan makna yang dalam dalam kata-katanya. Dia mengajarkan kepada kita berdua pentingnya rizki, rezeki, yang meliputi segala yang kita butuhkan dalam hidup, baik itu materi, kebahagiaan, atau cinta.
Dan saat berbicara tentang cinta, dia menekankan betapa pentingnya restu. Restu tidak hanya berarti persetujuan, tetapi juga berisi doa dan harapan baik dari orang yang kita cintai. Restu adalah fondasi kuat bagi hubungan yang sehat dan bahagia.
Bapak saya dengan bijaknya mengingatkan saya dan kakak saya, Rizki, untuk tidak terus-terusan berantem. Dia mengatakan bahwa kita berdua saling melengkapi. Dalam keributan dan perdebatan kita, ada kedekatan yang tak terbantahkan. Kita mungkin punya perbedaan, tetapi kita adalah bagian dari satu kesatuan dalam sebuah keluarga, seperti dua sisi mata uang yang berbeda.
Meskipun bapak saya telah pergi, kata-kata bijaknya terus menginspirasi dan membimbing perjalanan hidup saya. Hubungan saya dengan kakak saya, Rizki, telah tumbuh menjadi lebih matang dan penuh pengertian. Kita berdua tidak lagi berantem seperti dulu. Kita memahami bahwa saling melengkapi adalah kunci dalam hubungan saudara.
Bapak saya adalah seorang filsuf dalam hidup saya, dan dia meninggalkan warisan kata-kata bijak yang akan selalu saya pegang erat. Dalam hidup, kita mencari rizki, dan dalam cinta, kita membutuhkan restu. Kata-kata sederhana ini mengandung kebijaksanaan yang mendalam yang akan terus saya anut dalam perjalanan hidup saya.
| etubrother |




0 comments:
Posting Komentar
Berkomentarlah dengan bijak dan sopan, mari kita budayakan bertutur kata yang baik dan saling menghormati. Mohon maaf bila komentar Anda yang tidak memenuhi kriteria tersebut akan saya hapus. Bila Anda ingin memberikan saran, kritik, masukan yang membangun, dan memberikan tambahan materi bila ada kekurangan pada artikel yang sedang dibahas dengan senang hati saya persilakan, terima kasih.